Selasa, 12 Juli 2016

Hari Raya Idul Fitri Sebagai Pendidikan MoralAnak

Halo bunda, kurang lebih hampir dua bulan lamanya ya baru sempat nulis lagi nih. Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, idul fitri kemarin tak boleh disia-siakan begitu saja ya bun. Jika kita berfikir lebih jelih lagi maka kita dapat mengambil pengalaman menarik seputar kehidupan anak-anak kita di hari lebaran. Setelah saya telah memaparkan mengenai Kekerasan Terhadap Siswa yang dapat anda lihat disini. Nah pada kesempatan ini saya akan menyajikan tulisan yang tidak kalah pentingnya loh, bagaimana para bunda dapat memanfaatkan momentum idul fitri sebagai pendidikan moral anak-anak kita. Selamat membaca.

Sebagai orangtua tentu menjadi tanggung jawab yang sangat berat dalam mendidik seroang anak. Kadang kala mereka harus menyesuaikan dengan karakter sang anak, ada yang memang membutuhkan perhatian yang lebih ekstra, ada juga yang tidak perlu mengeluarkan kekuatan yang berlebihan. Mungkin cukup saja dengan memberikaan contoh dari tiap pendidikan yang diberikan, misalnya pengalaman sang ibu atau ayah yang dijadikan contoh nyata. Kenapa pengalaman orangtua karena lebih dapat mengembalikan memori anak apalagi hal yang telah terjadi dalam kehidupan nyata. Mereka dapat lebih mengingat dengan mudah dan akan dapat tersimpan dengan baik.

Sebagai orangtua yang memiliki tanggung jawab yang besar, tak terkecuali di hari raya idul fitri menjadi moment yang juga penting loh dalam melatih moral anak-anak kita. Saat berkumpul bersama keluarga di rumah, atau menempuh perjalanan mudik, tentu rasa bahagia mendominasi. Kita seolah mendapat kesempatan mengenal kembali anak kita, belajar hal-hal baru yang sehari-hari kadang terlewatkan. Ada yang membingungkan, ada pula yang menyebalkan. Banyak juga yang mengharukan dan membanggakan.

Kata “Mohon maaf lahir batin” sering sekali diucapakan dan sudah menjadi kalimat umum yang wajib diucapkan tiap kali lebaran. Tak terkecuali menjadi bagian dari pendidikan anak-anak tiap hari raya ini datang. Sebenarnya kalimat ini adalah kalimat biasa yang berjumlah empat suku kata, namun jika jelih melihat dan memikirkan, kita dapat menjadikannya sebagai sebuah ajakan untuk benar-benar meminta maaf. Kita dapat memahamkan kepada anak-anak kita bahwa kata maaf disini tidak hanya sekedar ucapan saja, melainkan juga berniat agar tidak melakuka prilaku buruk atau negatif lagi di hari lain.

Selain itu, setelah mengucapkan kalimat tersebut biasanya (bahkan sudah menjadi kebiasaaan kita) menyalim tangan orang yang lebih tua dari kita. Dengan menggunakan tangan kanan, sambil menciumnya atau menyentuh jidat kita. Sebenarnya kebiasaaan ini sangat penting kepada sang anak, sebagai simbol dari sikap menghormati orang yang lebih tua atau dewasa dari kita. Saya sering melihat banyak orantua yang melatih anak-anak mereka sejak kecil tiap ingin berangkat keluar dari rumah atau sebagai tanda perpisahan bias any mereka mencium tangan kangan orang yang lebih tua seperti orangtua, kakak, nenek dan kakek dan sebagainya. Selajutnya mereka diberikan sejumlah uang sebagai hadiah, atau berupa benda.

Sebenarnya ada sebagian orangtua menganggap bahwa memberikan hadiah kepada seorang anak-anak mereka setiap setelah melakukan sesuatu yang diperintahkan tidaklah baik untuk psikologi anak-anak mereka. Namun, ada juga sebagian orangtua menganggap hal tersebut juga baik dengan alasan melatih anak untuk lebih belajar mandiri dengan berusaha untuk mendapatkan sebuah imbalan dari usaha yang telah dilakukannya. Dalam momentum idul fitri kebiasaaan memberi hadiah, baik dalam bentuk uang ataupun sebuah main yang telah janjikan kepada sang anak sebagai hadiah karena telah berpuasa selama sebulan penuh misalnya, atau hal lain yang telah mereka lakukan. Biasanya juga ketika banyak keluarga datang dari luar kota tidak sedikit yang membagikan THR atau sering orang sebut sebagai Tunjangan Hari Raya kepada sanak saudara atau keluarga di hari lebaran.

Sebenarnya kebiasaaan ini menurut saya sangat penting juga, penting kepada anak-anak. Ada nilai saling berbagi di dalamnya, nilai yang menunjukkan pentingnya saling berbagi rezeki yang telah diberikan oleh Allah Swt. Untuk lebih efesien menurut hemat saya adalah saat momentum pemberian hadiah disini dapat dimanfaatkan oleh bunda untuk memberikan pendidikan minimal sebagai berikut; pahamkan ke anak-anak bahwa setelah kita bekerja keras maka kita dapat merasakan hasil jerih payah setelah bekerja keras, memberi dengan berbagi sebagian harta yang dianugerahkan kepada kita kepada sebagian anak yatim (dan orang-orang yang membutuhkan) adalah sesuatu sikap moral yang baik dalam menumbuhkan empati sang anak, mengajarkan anak agar dapat menjalin silaturahmi dengan bersosialisasi kepada keluarga dan kerabat, dan masih banyak lagi yang dapat kita ajarkan tergantung kratifitas bunda masing-masing.

Demikianlah tulisan saya kali ini anda dapat juga melihat artikel lain seperti Pendidikan Moral Anak Indonesia dengan klik disini atau artikel-artikel lain yang terkait. Nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya yang bun, akan ada hal menarik lainnya yang dapat kita pelajari dari tiap pengalaman kita sehari-hari loh. See you next time bun, sekian dan terima kasih.








Jumat, 01 April 2016

Kekerasan Terhadap Siswa

Setelah saya memeparkan tulisan yang berjudul Masalah Pendidikan di Indonesia Part 2, untuk melihatnya anda dapat klik disini. Kali ini saya akan memaparkan tulisan yang berjudul Kekerasan Terhadap Siswa yang sangat sering terjadi. Kekerasan ini sangat berdampak buruk atau negative bagi tumbuh kembang sang anak. Sekolah adalah tempat menimbah ilmu, media pentransferan ilmu setelah lingkungan keluarga. Banyak orangtua berharap dengan menyekolahkan anak mereka, maka anak mereka dapat berperilaku baik yang orangtua harapkan. Lebih jelasnya, berikut penjelasannya.

Kekerasan terhadap siswa menurut saya disebabkan masih banyaknya pendidik yang belum memahami hakekat mendidik. Yang sangat memprihatinkan rasa rasa adalah kepribadian pendidik belum mencerminkan seorang pendidik. Ini penting, mengingat karakter guru berpengaruh terhadap masa depan anak didik. Kata-kata yang diucapkan oleh guru ibarat anak panah yang dilepaskan dari busur dan menancap di hati anak didik. Misalnya kata-kata yang tidak simpatik dari guru menghancurkan semangat belajar para murid. Sebaliknya, kata-kata yang memberikan dorongan semangat akan sangat berharga dalam menumbuhkan motivasi belajar.

Gurulah orangtua bagi anak di sekolah, yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dan kepribadian anak. Seorang guru harus bisa tenang dan tidak menunjukkan emosi yang menyala,tidak mempunyai prasangka yang buruk kepada peserta didiknya. Mereka juga dapat menyembunyikan perasaannya dari peserta didik dan sebaiknya memandang semua peserta didik sama. Sudah sepatutnya seorang guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bebas, motivator, dan semangat. Selain itu, mereka juga harus konsisten, tidak berubah-ubah pendirian dan jarang melakukan kesalahan. Mereka juga harus pandai, bijaksana dalam memperlakukan siswa dan mampu menjawab pertanyaan siswa serta sanggup memberikan bantuan secara maksimal kepada peserta didik. Jika hal tersebut dapat terlaksana, saya rasa kekerasan terhadap anak di sekolah tidak akan terjadi.

Kekerasan memang adalah hal yang seharusnya tidak terjadi dimanapun dan kapapun itu. Apalagi kekerasan ini menyangkut kekerasan yang dapat menentukan karakter anak didik. Ada hal menarik saya saya jika kita melihat anak-anak di Cina, melalui tulisan dan gambar mereka mengungkapkan bahwa mereka ingin para guru menghormati harga diri siswa, sensitif terhadap kondisi emosi mereka, memberi kebebasan mengekspresikan diri dan bersikap adil pada semua anak apapun latar belakang, gender, kemampuan, dan ciri-ciri individual lainnya. Sebagian besar anak memimpikan guru-guru yang penyayang dan perhatian. Hal ini penting, mengingat di usia anak-anak secara biologi mereka cenderung berkata jujur. Kepolosan mereka berasal dari perkataan yang sebenarnya, tidak dibuat-buat. Kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa atau anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab dari orangtua atau pengasuh yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat/kematian. Kekerasan pada anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak.

Kekerasan terhadap anak di sekolah sebagai bentuk penganiayaan baik fiisk maupun psikis. Penganiayaan fisik adalah tindakan kasar yang mencelakakan anak dan segala bentuk kekerasan fisik pada anak yang lainnya. Sedangkan penganiayaan psikis adalah semua tindakan merendahkan/meremehkan anak. Kekerasan terhadap siswa sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak dan dibanyak negara dikategorikan sebagai kejahatan sehingga untuk mencegahnya dapat dilakukan oleh para petugas hukum. Hal ini akan mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial maupun mental.

Kekerasan terhadap siswa dapat berupa kekerasan fisik mudah diketahui karena akibatnya bisa terlihat pada tubuh korban Kasus physical abuse: persentase tertinggi usia 0-5 tahun (32.3%) dan terendah usia 13-15 tahun (16.2%). Kekerasan biasanya meliputi memukul, mencekik, menempelkan benda panas ke tubuh korban dan lain-lainnya. Dampak dari kekerasan seperti ini selain menimbuBlkan luka dan trauma pada korban, juga seringkali membuat korban meninggal. Bentuk kekerasan secara eerbal, bentuk kekerasan seperti ini sering diabaikan dan dianggap biasa atau bahkan dianggap sebagai candaan. Kekerasaan seperti ini biasanya meliputi hinaan, makian, maupun celaan. Dampak dari kekerasaan seperti ini yaitu anak jadi belajar untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak menghormati orang lain dan juga bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri. Selain itu mereka juga menda[atkan kekerasan secara mental dan Pelecehan Seksual.

Sangat disayangkan sekali, miris rasanya saya melihat berbagai bentuk kekerasan anak baik di sekolah maupun di lingkup keluarganya di rumah. Saya menghimbau kepada para orangtua harus waspada terhadap lingkungan bermain anak-anak mereka. Tidak hanya itu mereka juga harus selalu memantau perkembangan anak mereka di lingkungan sekolah, mengingat banyaknya kekerasan terhadap siswa.

Anda dapat melihat artikel lain yang terkait seperti Peran Keluarga Dalam Pendidikan, anda dapat melihatnya disini. Atau artikel lain seperti Pendidikan Moral Anak Indonesia, klik disini.

Catatan :
Jika Anda akan mengambil tulisan ini, jangan lupa tulis sumbernya yah! Karena hak cipta penulis harus dihargai dan dilestarikan.

Kamis, 17 Maret 2016

Masalah Pendidikan di Indonesia Part 2


Sebelumnya saya telah memapaparkan Beberapa Permasalahan Pendidikan di Indonesia, bisa anda baca di sini. Kali ini pembahasan yang akan saya paparkan masih seputar masalah pendidikan di Indonesia, karena sesungguhnya permasalah pendidikan sangat banyak dan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Saya sendiri lebih cenderung untuk melihat permasalahan ini dari sudut pandang sosial budaya.

Pembangunan pendidikan yang kita rasakan hingga saat ini tentu sudah sangat baik, dibandingkan dengan dulu saat sebelum merdeka. Bangsa kita Indonesia sudah mengalami banyak perubahan baik secara mental maupun sarana, media dan intfratruktur. Tetapi tentu jika kita membandingkannya dengan negara-negara Se-ASEAN, yang kita saksikan masih ketinggallan jauh oleh mereka. Oleh karena itu, upaya yang efetif menurut hemat saya adalah perlunya penanganan yang lebih serius lagi terhadapa dunia pendidikan kita di Indoensia. Pertama-tama dimulai dari upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.

Rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity) disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini identik dengan ciri-ciri kemiskinan. Rendahnya mutu akademik terutama penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris padahal penguasaan materi tersebut merupakan kunci dalam menguasai dan mengembangkan iptek. Selain itu, endahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standart yang sudah ditentukan. Rendahnya juga efisiensi eksternal sistem pendidikan yang disebut dengan relevansi pendidikan, yang menyebabkan terjadinya pengangguran tenaga terdidik yang cenderung terus meningkat. Secara empiris kecenderungan meningkatnya pengangguran tenaga terdidik disebabkan oleh perkembangan dunia usaha yang masih di dominasi oleh pengusaha besar yang jumlahnya terbatas dan sangat mengutamakan efisiensi (padat modal dan padat teknologi). Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja jauh lebuh kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.

Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Berbagai masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.

Sistem pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem. Pembanguan sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak singkron dengan pembanguanan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem tersebut, dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya suatu permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat disekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya diluar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.

Untuk itu diharapkan agar pendidikan di Indonesia dapat mencitakan mutu yang berkualitas. Melahirkan generasi-generasi hebat yang dapat menciptkan inovasi-inovasi yang dapat meningkatkan kualitas sistem pendidikan kita. 

Referensi : https://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/

Jumat, 04 Maret 2016

Pendidikan Moral Anak Indonesia


Setelah saya menyajikan artikel tentang bagaimana peran keluarga dalam pendidikan, kalian dapat melihatnya di peran keluarga dalam pendidikan. Kali ini saya akan membahas tentang bagaimana pendidikan moral anak Indonesia.

Miris jika melihat kehancuran mental generasi kita sampai saat ini.. Maraknya angka freesex atau seks bebas di kalangan remaja, maraknya penggunaan obat-obatan terlarang, seringnya terjadi bentrokan antar warga, antar pelajar, mahasiswa dengan aparat, dan lainnya yang biasanya didasari hal-hal sepele. Semakin banyaknya juga kasus korupsi yang terungkap ke permukaan menunjukan degradasi moral tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat biasa, sampai pada para pejabat yang seharusnya menjadi pengayom dan teladan bagi warganya. Saya merasa sangat sedih karena tidak bisa melakukan apapun untuk menhadapi situasi ini. Apakah generasi kita diambang kehancur ataukah kita belum mampu memberikan pendidikan moral dengan baik kepada anak-anak kita.

Salah satu cara menurut hemat saya adalah melalui pemberian sejak dini akan arti pentingnya pendidikan moral, perbaikan sosial dan kemajuan peradaban bangsa yang menjunjung tinggi integritas nilai dan kemanusiaan bagi generasi Indonesia. Harapan dari pendidikan karakter yang berbasis moral ini dapat terciptanya keseimbangan antara pengetahuan dan moral anak-anak. Tugas dalam membentuk model pendidikan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga tetapi pihak lembaga sekolah formal seperti sekolah, lingkungan bermain anak sampai pada pemerintah bersangkutan. Salah satu wujud pendidikan moral dapat kita terapkan melalui pentransferan nilai-nilai budaya sejak dini adalah salah satu cara yang cukup efektif meningat masa-masa keemasan seorang anak dimulai sejak usia 0-8 tahun. Nilai-nilai budaya ini seperti saling memaafkan, tidak sombong, bertanggung jawab, tolong menolong, tenggang rasa, toleransi, rendah hati, pemaaf, dan sebagainya. Diharapkan tertanamnya nilai-nilai budaya tersbeut didiri tiap anak, terbentuk karakter yang baik, yang berlaku dan disepakati masyarakat kita. 

Kalau seorang anak mampu bersikap baik, ditunjang dengan lingkungan yang baik yakin dan percaya anak itu akan menjadi orang baik. Nah untuk lingkungan yang baik adalah tugas kita bersama. Mengingat arus telekomunikasi sangat besar peranannya dalam mempengaruhi pola pikir anak-anak sekarang ini. Setiap anak sudah dengan mudah dan cepat mengakses banyak informasi, tak terkecuali informasi negatif. Diusia yang masih kecil, seorang anak belum dapat membedakan mengenai informasi yang unsurnya berbau positif maupun negatif. Mereka hanya dapat melihat, mendengar dan menyaksikan hal-hal yang sebenarnya menyimpang dari norma dan adat istiadat budaya kita. Sebut saja seperti mudahnya mengakses video atau hal-hal yang berunsur pornografi dapat diakses dengan mudah, cepat dan dimana saja. Akses kriminalitas yang terjadi dimanapun dan kapapun saja mereka dapat melihatnya. Berbagai adegan prilaku yang tidak senonoh misalnya juga dapat diakses dengan cepat seperti kasus perselingkuhan , pembunuhan dan pecurian. Hal ini dapat tertanam dan tidak sedikit yang menjadi ajang percontohan bagi mereka. Perhatian pendidikan moral terhadap anak sepatutnya harus diberdayakan sedini mungkin.

Sebenarnya tugas yang paling penting dan utama berasal dari peran keluarga yang telah saya paparkan pada artikel sebelumnya. Anda dapat mengaksesnya di peran keluarga dalam pendidikan. Bahkan ada yang bilang “kalau ingin tahu kepribadian seseorang maka yang paling mirip kepribadiannya adalah orangtuanya”. Selain faktor biologis (gen) yang diwariskan kepada mereka yang berpengaruh terhadap sikap dan kepribadiananya, berbagai nilai-nilai kepribadian yang diajarkan sejak kecil juga diperoleh pertama kali dari orangtua. Contoh, seorang anak dalam masyarakat Bugis diajarkan nilai kesopanan dalam berperilaku dengan berjalan tidak menlangkahi orang yang lebih tua dan menaruh tangan kanannya dibawah sambil berjalan, mereka harus mengatakan tabe’ yang artinya permisi. Perilaku ini terdengar simple tapi sudah dilakukan sejak dulu kala (turun-temurun). Selain itu, ada kata yang diucapkan sebagai bentuk kesopanan menandakan setuju yaitu kata iye’. Kedua kata ini telah ditransferkan oleh nenek-moyang terdahulu sebagai warisan yang tidak bisa ditinggalkan dan menjadi bagian dari hidup mereka. Bahkan jika mereka melanggarnya, maka mendapatkan sanksi sosial seperti menganggap orang itu tidak sopan, mereka dianggap sudah meninggalkan adat istiadat.

Minggu, 28 Februari 2016

Peran Keluarga Dalam Pendidikan



Setelah saya membahas tentang karakteristik anak usia dini yang dapat anda baca di karakteristik anak usia dini. Berikut saya akan membahas tentang peran keluarga dalam pendidikan. Selain perlindungan, kasih sayang, kecupan, pelukan, keluarga juga memiliki kewajiban dalam pendidikan. Keluarga inti terdiri dari seorang ayah, ibu, kakak dan adik sedangkan keluarga luas sudah mencakup sepupu satu kali, sepupu dua kali, tante, paman, nenek, kakek dan sebagainya. Tiap keluarga memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda, tergantung kesepakatan mereka. Tujuan ini dapat teraih jika seluruh anggota keluarganya mampu bekerjasama dengan baik. Selain kewajiban seorang ayah dan ibu dalam sebuah keluarga memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Keluarga menyediakan situasi belajar. Sebagai satu kesatuan hidup bersama (system sosial), peran keluarga dalam pendidikan adalah membentuk anak mengembangkan sifat persahabatan, cinta kasih, hubungan antar pribadi, kerja sama, disiplin, tingkah laku yang baik, serta pengakuan akan kewibawaan. Sumbangan keluarga bagi pendidikan anak berupa sebagai berikut :

  1. Melatih anak menguasai cara-cara mengurus diri, seperti cara makan, berbicara, berjalan, berdoa dan yang lainnya. Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan diri anak sebagai seorang pribadi.
  2. Sikap orang tua kepada anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Sikap menerima atau menolak, sayang atau acuh tak acuh, sabar atau terburu-buru, melindungi atau membiarkan anak, secara langsung memberikan pengaruh kepada anak dalam hal reaksi emosional anak.


Keluarga sebagai wadah kehidupan individu mempunyai peran penting dalam membina dan mengembangkan individu yang bernaung di dalamnya. Selain itu, keluarga sebagai tempat proses sosialisasi paling dini bagi tiap anggotanya untuk menuju pergaulan masyarakat yang lebih kompleks dan lebih luas. Kebutuhan fisik seperti kasih sayang dan pendidikan dari anggota-anggota keluarganya sangat penting mengingat pendidikan yang pertama berasal dari keluarga. sehingga peran keluarga dalam pendidikan adalah hal yang tidak disepelekan, bahkan menjadi slaah satu bagian dari tujuan hidup sebuah keluarga.

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan. Berkembang menjadi dewasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti dan kepribadian tiap-tiap manusia. Pendidikan yang diterima sebagai peran keluarga dalam pendidikan inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah.
Hal ini berarti keluarga memiliki tanggung jawab kepada anak dalam hal pendidikan.Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan di bina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain :
  1. Memelihara dan membesarkannya, tanggung jawab ini alami untuk dilaksanakan.
  2. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
  3. Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga bila ia telah dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain.
  4. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Sebagai tujuan akhir hidup manusia.

Sebagai fungsi pendidikan, dahulu keluarga merupakan satu-satunya institusi untuk mempersiapkan anak agar dapat hidup secara sosial dan ekonomi di masyarakat. Sekarangpun keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama dalam mengembangkan dasar kepribadian anak. itulah kenapa peran keluarga dalam pendidikan sangat penting dalam tumbuh kembang sang anak.  Selain itu keluarga/orang tua menurut hasil penelitian psikologi berfungsi sebagai faktor pemberi pengaruh utama bagi motivasi belajar anak yang pengaruhnya begitu mendalam pada setiap langkah perkembangan anak
yang dapat bertahan hingga ke perguruan tinggi.

Tugas utama keluarga bagi pendidikan anak ialah peletak dasar bagi pendidikan, namun perlu didasari oleh teori pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Artinya keluarga juga harus memahami masalah atau hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana mendidik anak sesuai dengan perkembangan anak. Bila hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang tua, maka generasi mendatang telah mempunyai kekuatan mental menghadapi perubahan dalam masyarakat. Untuk berbuat demikian, tentu saja orang tua perlu meningkatkan ilmu dan keterampilannya sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Di samping itu keluarga dalam mendidik tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak, namun harus memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih, dengan tetap mendampingi agar anak tidak salah dalam memilih. demikianlah pembahasan peran keluarga dalam pendidikan yang bisa saya sampaikan, terima kasih sudah membacanya.

Sabtu, 27 Februari 2016

Karakteristik Anak Usia Dini

Setelah sebelumnya saya telah membahas permasalahan pendidikan di Indonesia yang dapat anda lihat di permasalahan pendidikan di Indonesia. Kali ini saya akan memaparkan tentang karakteristik anak usia dini. Jika mendengar dan melihat istilah Pendidikan anak Usia Dini atau PAUD maka hampir semua orang mengrtahuinya, khususnya para ibu rumah tangga yang memiliki seorang anak. PAUD adalah suatu upaya yang ditujukan seorang anak mulai umur 0-8 tahun dengan memberikan berupa rangsangan stimuli dalam mempersiapkannya menuju jenjang sekolah yang lebih tinggi. Pendidikan Anak Usia Dini seperti TK, Kelompok bermain, TPA dan sebagainya. Sedang anak usia dini adalah anak yang harus seharusnya diberikan kasih sayang, perhatian, butuh dihargai, mereka butuh mengaktualisasi diri yang di pertama kali diperolehnya dari keluarga, terutama orangtua. Pentransferannya dengan kasih sayang, perhatian, pelukan dan kecupan.

Persiapan anak dalam memasuki pendidikan dasar diharapkan dapat menguasai kecakapan interpersonal, seperti sebagai berikut; (1) anak sudah mampu mengurus diri sendiri melakukan buang air kecil dan air besar, (2) anak sudah mampu melakukan aktifitas tertentu seperti bangun tidur sendiri, mandi, makan tanpa disuap dan dipaksa, (3) anak sudah mampu memiliki inisiatif sendiri untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, (4) anak sudah mampu mengelola dan mengendalikan emosinya sara tepat. Beberapa hal tersebut sangat penting dimiliki oleh anak, guna kesuksesan belajarnya. Tentu saja hal tersebut tidak terlepas dari karakter anak yang berbeda-beda.
Karakteristik anak usia dini meliputi, sebagai berikut; (1) memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala hal yang berada disekitarnya, umumnya berumur 3-4 tahun, (2) memiliki pribadi yang unik, (3) cenderung berfantasi dan berimajinasi, dan (4) masa paling potensial anak untuk belajar. Yang menjadi pertanyaan adalah kapan waktu yang tepat untuk menentukan kepribadian anak yang baik. Di usia 0-8 tahun otak anak berkembang sangat cepat, di usia ini kerja otak sangat efektif menerima dan menyerap berbagai informasi, belum bisa membedakan baik dan buruk segala sesuatu. Di masa ini terjadi perkembangan fisik, mental maupun spiritual bahkan masa ini adalah masa-masa keemasan bagi tumbuh kembang sang anak.

Selain itu karakteristik anak usia dini lainnya sebagai berikut;

(1) Anak aktif dan energik biasanya, mereka senang sekali melakukan berbagai aktifitas.
(2) Mereka seolah-olah tidak pernah lelah, tidak pernah merasa bosan, dan tidak pernah mau berhenti beraktifitas kecuali ketika mereka tidur.
(3) Rasa ingin tahu mereka kuat, umumnya setiap anak memiliki rasa penasaran dan ingin mengetahui ini dan itu, setiap saat mereka ingin mengetahui hal-hal baru yang mereka belum ketahui. (4) Eksploratif dan berjiwa petualang, rasa ingin tahu yang kuat biasanya diiringi dengan menjelajahi sesuatu dan berjiwa petualang. Misalnya anak senang berjalan kesana kemari, mencorat-coret dinding, senang membongkar mainan yang baru dibelinya, dan sebagainya.
(5) Spontan karakter anak yang selanjutnya adalah sifat spontan yang ada pada anak. Perilaku dan sikap yang dilakukan pada anak umumnya adalah sikap asli mereka dan tanpa ada sikap rekayasa. Hal ini dapat anda jumpai ketika anak sering berbicara ceplas-ceplos dan merefleksikan apapun yang ada dalam hati dan pikiran mereka.
(6) Mudah frustasi, rasa ingin tahu yang berlebih dan tidak segera dituruti akan menjadikan anak mudah frustasi. Sikap yang sering mereka lakukan ketika merasa frustasi biasanya mereka ungkapkan dengan marah, menangis, dan sebagainya.Kurang Pertimbangan, anak biasanya kurang mempertimbangkan hal-hal yang mereka akan lakukan. Apakan yang dilakukan itu berbahaya bagi dirinya ataukah tidak. Misalnya ketika mereka bermain dengan benda-benda tajam, mereka lebih cenderung memainkannya daripada mendengarkan perkataan orang tuanya

Jumat, 26 Februari 2016

Beberapa Permasalahan Pendidikan di Indonesia


Kualitas pendidikan di Indonesia tergolong masih rendah, peningkatannya juga masih tergolong sangat lemah jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kualitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Itulah kenapa permasalahan pendidikan di Indonesia tergolong sebagai masalah serius yang harus dipecahkan.

Permasalahan pendidikan di Indonesia karena karena kualitas para pendidik kita masih tergolong lemah. Para pendidik di Indonesia kurang memahami mekanisme ajar-mengajar yang sesungguhnya. Metode yang mereka terapkan cenderung tidak memahamkan para didiknya, melainkan lebih memaksakan memikirkan sesuatu dengan cara dipaksa. Seharusnya para anak didik dipahamkan bagaimana cara mereka berfikir atau proses berfikir bukan dipaksakan untuk memikirkan sesuatu. Apalagi sebenarnya metode mengajar yang baik jika mampu membiarkan anak didik berimajinasi dengan yang ada disekitarnya. Mengasah otak mereka dengan terbiasa memikirkan hal-hal yang membantunya terus berfikir menemukan solusi bukan mengarahkan gaya berfikir anak.

Selain itu, lemahnya juga sistem kurikulum kita yang dari tahun ke tahun tidak pernah berubah sejak dahulu kala. Standarisasi kurikulum yang berlaku tidak melihat kebutuhan anak yang sesungguhnya. Kurikulum yang diberlakukan hanya semata berasal dari rumusan para penguasa pendidikan kita, jauh dari yang dibutuhkan oleh anak didik. Sehingga banyak lulusan anak didik tidak berkualitas, tidak mampu menciptakan inovasi-inovasi yang produktif bagi bangsa ini.

Terdapat tiga permasalahan pendidikan di Indonesia jika kita dapat melihatnya dengan jelih. Apa sajakah itu? Pertama adalah kurang seimbangnya antara proses berfikir (kognitif) dan berprilaku dalam metode mengajar (afektif). Unsur integrasi dalam dunia pendidikan di Indonesia cenderung semakin hilang, yang terjadi justru besifat disintegrasi. Padahal belajar tidak selalu terus berfikir karena disaat seseorang belajar mereka juga melakukan pengamatan, membandingkan , menyukai, meragukan dan sebagainya. Hal ini sering dihubungkan dengan istilah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederatan instruksi pendidik kepada anak yang dididik. Apalagi dengan istilah yang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai”. Dan “siap pakai” di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan teknologi. Sehingga permasalahan pendidikan di Indonesia nampak memandang manusia sama seperti bahan-bahan pendukung indutri. Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya justru disambut dengan antusias oleh banyak lembaga pendidikan.

Kedua yang menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan yang bersifat top-down (dari atas ke bawah. Sistem pendidikan ini membantasi para peserta didik (murid) karena mereka dianggap sebagai manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Hanya seorang pendidik/guru yang menguasai banyak hal sehingga tugas guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Katakanlah seorang guru tugasnya sebagai pengisi dan seorang murid sebagai yang diisi. ) Kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank, maka dalam sistem pendidikan di Indonesia murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan guru. Dengan kata lain hubungan pendidik dan murid sama hal dengan pendidik/guru sebagai subyek seangkan murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak adil bagi murid karena sangat menindas mereka. Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-apa.
Beberapa Permasalahan Pendidikan Indonesia

Permasalahan pendidikan di Indonesia yang ketiga adalah manusia yang dihasilkan hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia). Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi yang dilakukan untuk keluar dari permasalahan pendidikan di Indonesia, pendidikan di Indonesia harus terlebur dalam “strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik internasional. Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini penulis kemukakan, melainkan justru hendak mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita.

Demikian pembahasan ini, anda dapat membaca artikel tentang masalah pendidikan di Indonesia Part 2, silahkan klik di sini untuk membacanya.
 
Postingan ini bersumber dari hasil diskusi dan Makalah yang diposting di https://van88.wordpress.com/makalah-permasalahan-pendidikan-di-indonesia/ (diakses 27 Februari 2016)
Sumber gambar: informasi-sosial.blogspot.com